Welcome to my blog, si Ucil,,,

Tuesday, March 8, 2011

KONSEP DASAR PSIKOLOGI BELAJAR PAI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kegiatan belajar termasuk pembelajaran Pelajaran Agama Islam (PAI), sangat erat dengan muatan psikologis. Dengan kata lain, banyak aspek psikologis dalam proses pembelajaran yang harus dipahami oleh seorang pendidik demi tercapainya tujuan pendidikan. Mengabaikan aspek-aspek psikologis dalam pembelajaran akan berakibat kegagalan. Untuk dapat memahami berbagai aspek psikologis dalam pembelajaran, termasuk pembelajaran PAI, guru harus memahami berbagai konsep psikologi,khususnyapsikologibelajar.
Telah disebutkan di atas bahwa belajar dan mengajar merupakan konsep yang bermuatan psikologis. Islam melalui surat Al-Alaq dan Al-Muddatsir telah meletakkan dasar-dasar konsep psikologi bagi kehidupan manusia, khususnya dalam aktivitas belajar mengajar, terlebih khusus lagi pembelajaran PAI. Konsep dalam kedua ayat tersebut merupakan konsep ideal. Oleh karena itu wajarlah bila teori dan konsep psikologi pendidikan di dasarkan pada Al-Qur’an dan sunah.
Banyak hal yang perlu dikuasai oleh seorang pendidik, bukan hanya hal-hal yang kasat mata dan lahiriah, tetapi juga harus menguasai hal-hal yang bersifat batiniah. Misalnya memahami perasaan, keinginan, jalan pikiran, dan emosi siswa, yang kesemuanya tercakup dalam ranah psikologi. Tanpa keahlian tersebut, pendidik tidak akan mampu memaksimalkan potensi siswa.
B. Rumusan masalah
1. Apa pengertian psikologi ?
2. Apa pengertian belajar ?
3. Bagaimana konsep dasar psikologi belajar PAI ?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengetian psikologi
2. Mengetahui pengertian belajar
3. Memgetahui konsep dasar belajar PAI



BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian psikologi belajar PAI
1. Psikologi
Kata psikologi berasal dari Bahasa Inggris psychology. Kata ini diadopsi dari Bahasa Yunani yang berakar dari dua kata yaitu psyche yang berarti jiwa atau roh, dan logos berarti ilmu. Jadi secara mudah psikologi berarti ilmu jiwa.
Beberapa ahli memberikan pendapat mengenai arti psikologi. RS. Woodworth berkata psychology can be defined as the science of the activities of the individual (Woodworth, 1955:3). Ngalim Purwanto (1996:12) menyatakan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Tingkah laku disini meliputi segala kegiatan yang tampak maupun yang tidak tampak, yang dilakukan secara sadar atau tidak sadar. Sedang Sarwono (1976) mendefinisikan psikologi dalam tiga definisi. Pertama, psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan. Kedua, psikologi adalah ilmu yang mempelajari hakikat manusia. Ketiga, psikologi adalah ilmu yang mempelajari respon yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya.
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu dalam interaksi dengan lingkungannya.
2. Belajar
Menurut James O. Whittaker, belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
“Learning maybe defined as the proces by which behavior originates or is altered through training or experience”
Dengan demikian perubahan-perubahan tingkah laku akibat pertumbuhan fisik atau kematangan, kelelahan, penyakit, atau pengaruh obat-obatan adalah tidak termasuk sebagai belajar.[1]
Sedangkan menurut Cronbach dalam bukunya yang berjudul Educational Psychology sebagai berikut.
“Learning is shown by change in behaviour as a result of experience”
Dengan demikian belajar yang efektif adalah melalui pengalaman. Dalam proses belajar, seseorang berinteraksi langsung dengan objek belajar dengan menggunakan semua alat inderanya.
Satu definisi lagi yang perlu dikemukakan disini yaitu yang dikemukakan oleh Howard L. Kingsley sebagai berikut.
“Learning is the process by which behaviour (in the boarder sense) is originated or changed through practise or training”
Belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas ) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.
Belajar merupakan proses dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup tidak lain adalah hasil dari belajar. Belajar merupakan suatu proses, bukan suatu hasil. Karena itu, belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai tujuan.
3. Psikologi Belajar PAI
Merujuk pada pengertian psikologi diatas dalam pengertian yang lebih luas, psikologi belajar PAI dapat dimaknai dengan suatu ilmu pengetahuan yang mengkaji atau mempelajari tingakah laku individu (manusia), didalam usaha mengubah tingkah lakunya yang dilandasi oleh nilai-nilai ajaran islam dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan dalam alam sekitar melalui proses pendidikan.
Secara lebih sempit psikologi belajar PAI dapat dimaknai sebagai suatu ilmu yang mempelajari tingkah laku individu (siswa) dalam usaha mengubah tingkah lakunya yang dilandasi oleh nilai-nilai ajaran Islam melalui proses pembelajaran PAI.
Berdasarkan pengertian diatas, dapat di fahami bahwa psikologi belajar PAI pada dasarnya mencurahkan perhatiannya pada perilaku (perbuatan-perbuatan) ataupun tindak tanduk orang-orang yang melakukan kegiatan belajar dan mengajar atau orang-orang yang terlibat langsung dalam prosess pembelajaran.
B. Konsep Dasar Psikologi Belajar PAI
1. Tahap Belajar
a. Menurut Jerome S. Brunner.
Menurut Bruner, salah seorang penentang teori S-R Bond yang terbilang vokal (Barlow, 1985), dalam proses belajar siswa menempuh tiga episode/ tahap, yaitu:
1) Tahap informasi (tahap menerima materi)
2) Tahap transformasi (tahap mengubah materi)
3) Tahap evaluasi (tahap penilaian materi)
Dalam tahap informasi, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari.
Dalam tahap transformasi, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah, atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual supaya kelak pada gilirannya dapat dimanfaatkan bagi hal-hal yang lebih luas.
Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gajala atau memecahkan masalah yang dihadapi.
b. Menurut Arno F. Wittig
Menurut Wittig (1981) dalam bukunya Psicology of Learning, setiap proses belajar selalu berlangsung dalam tiga tahapan yaitu:
1. Acquisition (tahap perolehan/ penerimaan informasi)
2. Storage (tahap penyimpanan informasi)
3. Retrieval (tahap mendapatkan kembali informasi)
Pada tingkatan acquisition seorang siswa mulai menerima informasi sebagai stimulus dan melakukan respons terhadapnya, sehingga menimbulkan pemahaman dan perilaku baru. Pada tahap ini terjadi pula asimilasi antara pemahaman dengan perilaku baru dalam keseluruhan perilakunya. Proses acquisition dalam belajar merupakan tahapan yang paling mendasar. Kegagalan dalam tahap ini akan mengakibatkan kegagalan pada tahp-tahap berikutnya.
Pada tingkat storage seorang siswa secara otomatis akan mengalami proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang ia peroleh ketika menjalani proses acquisition.
Pada tingkat retrieval seorang siswa akan mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem memorinya, misalnya ketika ia menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah. Proses retrieval pada dasarnya adalah upaya atau peristiwa menta dalam mengungkapkan dan memproduksi kembali apa-apa yang tersimpan dalam memori berupa informasi, simbol, pemahaman, dan perilaku tertentu sebagai respons atas stimulus yang sedang dihadapi.[2]
2. Pendekatan dan Metode Belajar
Diantara pemdekatan belajar yang dipandang representatif yang klasik dan modern ialah:
a. Pendekatan hukum Jost
Salah satu asumsi penting yang mendasari hukum Jost adalah siswa yang lebih sering mempraktikkan materi pelajaran akan lebih mudah memanggil kembali memori lama yang berhubungan dengan materi yang sedang ia tekuni.
b. Pendakatan Ballard dan Clanchy
Pendekatan ini pada umumnya dipengaruhi oleh sikap terhadap ilmu pengetahuan (attitude to knowledge).ada dua macam siswa dalam menyikapi ilmu pengetahuan yaitu:
1. Conserving adalah sikap melestarikan yang sudah ada
Siswa yang bersikap conserving pada umumnya menggunakan pendekatan belajar “reproduktif” (bersifat menghasilkan kembali fakta dan informasi).
2. Extending adalah sikap memperluas
Siswa yang bersikap extending biasanya menggunakan pendekatan belajar “analitis” (berdasarkan pemilahan dan interpretasi fakta dan informasi).
c. Pendekatan Biggs
Pendekatan belajar siswa dapat dikelompokkan kedalam prototipe (bentuk dasar):
1. Pendekatan surface (bersifat lahiriah)
2. Pendekatan deep (mendalam)
3. Pendekatan achieving (pencapaian prestasi tinggi)[3]
Tabel Perbandingan pendekatan belajar Ballard dan Clanchy
Ragam pendekatan belajar dan karakteristiknya
Reproduktif
Analitis
Spekulatif
Strateginya:
- Menghafal
- Meniru
- Menjelaskan
- Meringkas
Pertanyaannya:
- Apa
Tujuan :
- Pembenaran/penyebutan kembali materi
Strateginya:
- Berfikir kritis
- Mempertanyakan
- Menimbang-nimbang
- Berargumen
Pertanyaannya:
- Mengapa
- Bagaimana
- Apa betul
- Apa penting
Tujuannya:
- Pembentukkan kembali materi ke dalam pola baru/berbeda
Strateginya:
- Sengaja mencari kemungkinan dan penjelasan baru
- Berspekulasi dan membuat hipotesis
Pertanyaannya:
- Bagaimana kalau
Tujuannya:
Menciptakan/mengembangkan materi pengetahuan
3. Metode belajar
a. Metode SQ3R
Pada prinsipnya SQ3R merupakan singkatan langkah-langkah mempelajari teks yang meliputi:
1. Survey, adalah memeriksa atau meneliti dan mengidentifikasi seluruh teks
2. Questions, adalah menyusun daftar pertanyaan yang relevan dengan teks
3. Read, adalah membaca teks secara aktif untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah tersusun
4. Recite, adalah menghafal setiap jawaban yang telah ditemukan
5. Review, adalah meninjau ulang seluruh jawaban atas pertanyaan yang tersusun pada langkah 2 dan 3
b. Metode PQ4R
Adalah metode yang dipandang dapat meningkatkan kinerja memori dalam memahami substansi teks. Metode ini terdiri atas 6 langkah :
1. Preview, menyurvei bab terlebih dahulu untuk menentukan topik umum didalamnya.
2. Questions, pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan sub bab.
3. Read, membaca isi sub bab secara cermat sambil mencoba mencari jawaban untuk pertanyaan yang telah disusun.
4. Reflect, mengingat secara mendalam isi sub bab yang telah dibaca sambil berusaha memahami isi dan menangkap contoh-contohnya serta menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya.
5. Recite, menghafal setiap jawaban yang telah ditemukan.
6. Review, menanamkan materi bab tersebut kedalam memory sambil mengingat-ingat inti sarinya.[4]


BAB III
KESIMPULAN
Menurut James O. Whittaker, belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
“Learning maybe defined as the proces by which behavior originates or is altered through training or experience”
Dengan demikian perubahan-perubahan tingkah laku akibat pertumbuhan fisik atau kematangan, kelelahan, penyakit, atau pengaruh obat-obatan adalah tidak termasuk sebagai belajar.
· Konsep dasar psikologi belajar PAI meliputi:
Tahap belajar, pandekatam dan metode belajar PAI.
1. Tahap belajar
Menurut Bruner, salah seorang penentang teori S-R Bond yang terbilang vokal (Barlow, 1985), dalam proses belajar siswa menempuh tiga episode/ tahap, yaitu:
§ Tahap informasi (tahap menerima materi)
§ Tahap transformasi (tahap mengubah materi)
§ Tahap evaluasi (tahap penilaian materi
2. Pendekatan belajar PAI
Ada tiga mcam pandekatan:
a. Pendekatan hukum Jost
b. Pendakatan Ballard dan Clanchy
c. Pendekatan Biggs
3. Metode belajar PAI
Terdapat dua metode dalam belajar PAI yang meliputi:
a. Metode SQ3R
b. Metode PQ4R
DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar, Psikologi Belajar dan Mengajar, Bandung: Sinar Baru, 1992
Syah, Muhibbin, Psikologi belajar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006
Ahmadi, Abu, Psikologi belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2004
Uno, Hamzah, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2006
Surya, Muhammad, Psikologi pembelajaran dan pengajaran, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004


[1] Abu ahmadi, Psikologi Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), 125-128
[2] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), 109-113
[3] Ibid, 136-137
[4] Ibid, 138-144

No comments:

Post a Comment

Post a Comment